Artikel

Kiat-Kiat Agar Senantiasa Semangat dalam Beribadah kepada Allah

Ibadah merupakan tujuan diciptakannya manusia di muka bumi, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur’an:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Meskipun telah mengetahui bahwa tujuan hidup adalah untuk beribadah, terkadang seorang Muslim merasa malas untuk melaksanakan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar selalu semangat dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antaranya adalah:

Pertama: Menanamkan Kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Seorang mukmin yang mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala akan merasakan manisnya keimanan. Ketika seseorang merasakan manisnya keimanan, ia akan merasa nikmat dan tidak merasa berat saat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan tiga hal yang apabila terkumpul dalam diri seorang hamba, maka ia akan merasakan manisnya keimanan. Beliau bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الإِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ؛ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ

“Tiga hal yang apabila terkumpul dalam diri seorang hamba, maka ia akan merasakan manisnya iman: pertama, Allah dan Rasul-Nya menjadi yang paling dia cintai melebihi kecintaan kepada selain keduanya; kedua, dia mencintai orang lain semata-mata karena Allah; ketiga, dia tidak ingin kembali kepada kekafiran sebagaimana ia tidak ingin dimasukkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari, no. 16)1.

Kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat terwujud dalam diri seorang hamba apabila ia mengenal Allah dengan cara mentauhidkan-Nya, mengetahui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta menunaikan hak-hak-Nya. Kecintaan ini dapat ditanamkan dengan memperbanyak mengingat dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kedua: Mempelajari dan Mengamalkan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Seseorang yang memahami sunnah-sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beribadah dan berusaha mengamalkannya akan merasakan nikmat dalam ibadahnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa setiap orang pasti akan mengalami masa futur (penurunan semangat dalam beribadah), tetapi jika seseorang tetap berusaha mengikuti sunnah-sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun dalam masa futur, maka ia adalah orang yang mendapat petunjuk. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدِ اهْتَدَى، وَمَنْ كَانَتْ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

“Sesungguhnya setiap amal memiliki masa semangatnya, dan setiap masa semangat memiliki masa lemahnya. Barangsiapa yang di masa malasnya mengikuti sunnahku, maka ia telah mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang di masa malasnya mengikuti selain dari sunnahku, maka ia binasa.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Ath-Thabrani. Hadis ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahih al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu no. 2152)2.

Ketiga: Meningkatkan Kekhusyukan dalam Beribadah

Mengerjakan ibadah akan terasa berat jika seseorang tidak khusyuk dalam mengerjakannya. Shalat memang berat, tetapi tidak bagi orang yang khusyuk dalam melakukannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45).

Keempat: Memperbanyak Mengingat Kematian

Setiap manusia pasti akan mengalami kematian, dan kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu awal dari perjalanan panjang untuk mempertanggungjawabkan setiap amal yang telah diperbuat. Oleh karena itu, seseorang yang memperbanyak mengingat kematian akan senantiasa bersemangat mengumpulkan bekal amal shaleh untuk menghadapi hari-hari setelah kematiannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang orang mukmin yang paling cerdas, dan beliau menjelaskan:

أَكْثَرُهُمْ لِلمَوْتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اِسْتِعْدَادًا، أُوْلَـٰئِكَ الْأَكْيَاسُ

“Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi hari-hari setelah kematiannya, merekalah orang-orang mukmin yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah. Hadis ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahih Sunan Ibni Majah no. 3454)3.

Kelima: Berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Agar Diberikan Semangat dalam Mengerjakan Ibadah

Manusia adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala hal, terutama dalam ibadah kepada-Nya. Oleh karena itu, seseorang yang ingin semangat dalam beribadah sebaiknya memperbanyak doa kepada Allah agar diberikan kebagusan dalam beribadah. Di antara doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadahku kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud. Hadis ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahih Sunan Abi Dawud no. 1522)4.

Surabaya, 3 Rabiul Awal 1446 H

Ustadz Angger Bimantara, S.Pd., M.Sos -TIM Asatidzah Al Firqotun Najiyah-

Referensi :

  1. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari. (Damaskus: Dar Al-Faiha’, 2017), 6. ↩︎
  2. Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. (Beirut: Al-Maktab Al-Islamy, 1988), 431. ↩︎
  3. Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Shahih Sunan Ibni Majah, Jilid 1. (Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif, 1988), 385. ↩︎
  4. Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Shahih Sunan Abi Dawud, Jilid 1. (Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif, 1998), 317. ↩︎

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button