Artikel

Menghitung Asma’ Allah

Di dalam Alquran banyak sekali kita menemukan ayat-ayat tentang asma’ dan sifat Allah. Yang demikian seorang hamba bisa mengerti bahwa Allah bermaksud memperkenalkan diri-Nya kepada para hamba, agar mereka bisa merealisasikan makna ‘ubudiyah yang sebenarnya kepada Rabb mereka. Seseorang yang tidak memahami asma’ dan sifat Allah bisa dipastikan bahwa orang tersebut tidak akan bisa mengamalkan ibadah dengan makna yang benar, tidak akan merasakan manisnya keimanan, jauh dari muroqobatullah, serta jauh dari derajat al-ihsan yang merupakan derajat yang paling tinggi dalam Islam.

Di sisi lain, mengenal Allah merupakan tujuan dari kehidupan. Apabila mereka mengenal Allah dengan asma’ sifat-sifat-Nya yang maha mulia dan indah, maka seseorang akan menyembah-Nya, mencintai-Nya, dan mereka akan memenuhi hak-Nya, maka inilah tujuan dari penciptaan dan perintah, yaitu mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya.1

Maka ketika kita telah mengetahui urgensi mempelajari asma was sifat hendaknya perhatian kita selalu terpumpun padanya melebihi perhatian seseorang terhadap makanan dan minuman.

Membilang Asma’ul Husna

Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

إِنَّ للهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اسْماً، مِئَةً إِلاَّ وَاحِداً، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus dikurangi satu, barang siapa yang menghitungnya dia akan masuk surga”. HR. Bukhori. 7392.2

Uraian Hadits

Sabda Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama), ini menunjukan bahwa Allah memiliki asmaul husna yang melaluinya para hamba bisa mengenal Rabb mereka.

Nama-nama Allah merupakan suatu hal yang bersifat tauqifi, yaitu seseorang tidak bisa mengetahuinya kecuali dengan perantara wahyu; Alquran dan Sunnah.

Perlu diketahui bilangan sembilan puluh sembilan dalam hadis ini tidak menunjukan suatu pembatasan, dalam artian asma’ Allah tidak hanya sembilan puluh sembilan, melainkan labih dari itu, bahkan tidak ada yang bisa mengetahui jumlahnya kecuali Allah semata. Dalilnya sabda Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dalam sebuah doa yang panjang, diakhir doa tersebut disebutkan tawassul Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dengan asma’ullah: 

(( … أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الغَيْبِ عِنْدَكَ …))

“ … Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau menamai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan salah seorang hambamu, atau yang Engkau khususkan dalam ilmu gaib yang ada di sisi-Mu …”. HR. Ahmad. 3712.3

Jadi makna sembilan puluh sembilan yang disebut dalam hadis di atas ialah jumlah yang mungkin bagi seorang hamba untuk menemukannya di dalam Alquran dan Sunnah apabila ia mencermati dan mempelajarinya dengan baik. Dan apabila seseorang telah mempelajari, kemudian memahaminya, menghafalnya, dan beribadah kepada Allah dengan asma’-Nya tesebut, serta mengamalkan konsekwensinya, maka ia termasuk orang yang dijanjikan Surga oleh Allah.

Asma’ullah menunjukkan dan mengandung sifat bagi Allah. Misalnya, nama Allah as-Sami’ (yang maha mendengar) menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat mendengar. Contoh lain nama Allah ar-Razzaq (yang maha memberi rizki) menunjukkan sifat Allah pemberi rizki. Nama Allah al-’Ali (yang maha tinggi) menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat maha tinggi, maha tinggi di atas para makhluk-Nya, dan demikian seterusnya.

Dan yang harus diperhatikan dalam pembahasan asma’ul husna, seseorang harus berhati-hati dan menghindari perkara al-ilhad fi asma’illah, yaitu penyimpangan yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah. Dan bentuk penyimpangan tersebut:

  1. Mengingkari nama tersebut dan makna yang terkandung di dalamnya. Seperti perbuatan kaum Jahmiyah dan ahlut ta’thil.
  2. Tasybih (penyerupaan) nama Allah dengan selain-Nya.
  3. Menamai Allah dengan nama-nama yang Allah tidak menamai diri-Nya dengan nama tersebut. Seperti kaum Nasrani yang menamai Allah dengan nama “Bapak”.
  4. Menamai berhala atau sesembahan selain Allah dengan nama Allah. Seperti nama al-laat yang diambil dari nama Allah al-ilah, ‘uzza dari nama Allah al-’Aziz, dan Manat yang diambil dari nama al-Mannan.4

Imam Ibnul Qoyyim Menjelaskan bahwa ilhad dalam asma’ was shifat bisa dalam bentuk pengingkaran terhadap nama-nama tersebut, pengingkaran terhadap kandungannya, penyelewengan terhadap makna yang benar yang dikandung nama tersebut, dan takwil yang salah serta jauh dari kebenaran. Atau menjadikan nama-nama tersebut untuk makhluk-makhluk yang ada di dunia ini seperti yang dilakukan para penganut paham wihdatul wujud.5

Maka seseorang tidak dikatakan keimanannya benar sampai dia menghindari penyimpangan-penyimlangan ini.

Sabda Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (siapa yang menghitungnya dia akan masuk Surga), makna ihsho’ (menghitung) dalam hadis ini mencakup beberapa hal:

  1. Menghafalnya
  2. Memahami maknanya
  3. Mengamalkan apa yang menjadi konsekwensi nama tersebut
  4. Beribadah dan berdoa kepada Allah dengan nama-nama tersebut

Sebagai contoh: kita mendapati bahwa diantara nama Allah ialah al-Ilah, yang bermakna Allah lah satu-satunya Dzat yang berhak disembah, dan bahwasanya semua sesembahan selain Allah adalah sesembahan yang batil; karena hanya Allah yang berkuasa di alam semesta ini, Dialah yang menciptakan, yang menguasai, dan mengatur alam. Sedangkan sesembahan selai-Nya tidak memiliki apa-apa maupun campur tangan di alam ini, karena itulah mereka tidak berhak disembah dan diibadahi. Setelah kita mengetahui makna dari nama al-Ilah maka kita mengamalkan konsekwensinya, yaitu kita hanya beribadah dan berdoa kepada Allah, dan menjauhi segela bentuk kesyirikan. Dan demikian seterusnya dalam makna nama-nama Allah yang lain.

Faidah Hadis

  1. Allah memiliki asma’ul husna, dan kewajiban mengimaninya.
  2. Ada sembilan puluh sembilan nama Allah yang barang siapa mempelajarinya dan mengamalkannya maka ia akan masuk Surga.
  3. Sembilan puluh sembilan nama bukan sebuah bilangan yang menunjukkan pembatasan. Bahkan asma’ullah tidak diketahui bilangannya keculia oleh Allah semata.
  4. Hadis yang agung ini sebagai bantahan kaum mu’athilah yang mana mereka mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah, baik pengingkaran secara totalitas ataupun parsial.

Madinah, 26 Rabiul Awal 1446 H
Ustadz Muhammad Syah Reza Vahlepi, S.Pd (Tim Asatidzah Al Firqotun Najiyah)

Daftar Pustaka

  1. Muhammad bin Nashir as-Sa’di, Taisir Karimirrahman fi Tafsir Kalamil Mannan (Qosim: Dar Asdaul Mujtama), 1028. ↩︎
  2. Muhammad bin Ismail al-Bukhori, al-Jami’ al-Musnad al-Mukhtashor Min Umuri Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamih (Damaskus: Muassasah ar-Risalah, 1444 H), 1696. ↩︎
  3. Ahmad bin Hambal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hambal jilid 6 (Damaskus: Muassasah ar-Risalah, 1421 H), 246-247. ↩︎
  4. Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin, al-Qowa’idul Mutsla fi Shifatillah wa Asma’ihil Husna (Madinah: Darut Tauhid, 1441 H), 109-110. ↩︎
  5. Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Madarijus salikin fi Manazil as-Sa’irin jilid 1 (Riyadh: Dar ‘Athoat al-’Ilmu, 1441 H), 45-46. ↩︎

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button