
Allah عَزَّ وَجَلَّ menciptakan Surga sebagai tempat bagi orang-orang beriman dan beramal sholih, sebagai tempat orang-orang yang Ia ridhoi, sebuah tempat yang tidak ada di dalamnya kecuali kenikmatan dan kesenangan.
Begitu banyak nas di dalam Alquran dan Sunnah yang menjelaskan dan menggambarkan akan kenikmatan dan keindahan Surga, yang mana diantara tujuanya ialah untuk menarik dan memotivasi manusia untuk beriman kepada Allah dan memperbanyak amal-amal kebaikan. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda di dalam hadis qudsi, Allah عَزَّ وَجَلَّ berfirmana:
أَعْدَدتُّ لِعِبَادِيَ الصَالِحِيْنَ: ماَ لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Aku menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang sholih: sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan bahkan tidak pernah terbetik di dalam hati manusia”.1
Dari sini kita mengetahui bahwa kenikmatan apapun yang ada di dunia ini yang pernah manusia dapatkan, maka kenikmatan Surga jauh lebih agung, yang bahkan kenikmatan tersebut sama sekali tidak pernah terbetik di dalam jiwa manusia. Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا berkata:
لَيْسَ فيِ الجَنَّةِ شَيْءٌ مِمَّا فيِ الدُنْيَا إِلاَّ الأَسْمَاءُ
“Tidak ada sesuatu di Surga yang ada di dunia kecuali hanya nama”. 2
Maksudnya semua hal yang ada di dunia berbeda dengan apa yang ada di Surga, walaupun memiliki kesamaan nama. Air di dunia tidaklah sama dengan air yang ada di Surga, anggur di dunia tidaklah sama dengan anggur Surga, begitu pula madu, makanan-makanan, pepohonan, rumah-rumah, dan seterusnya.
Mari sejenak kita menyimak apa yang disabdakan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tentang manzilah terendah bagi penduduk Surga, dan bagaimana kenikmatan yang Allah berikan kepadanya.
Derajat Terendah Penduduk Surga
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : ((إِنِّي لَأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا، وآخِرَ أَهْلِ الجَنَّةِ دَخُولاً الجَنَّةَ: رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ حَبْوًا، فَيَقُولُ اللهُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اذْهَبْ فَادْخُلِ الجَنَّةَ. فَيَأْتِيْهَا، فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى، فَيَرْجِعُ، فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّي! وَجَدْتُهَا مَلْأَى!، فَيَقُولُ اللهُ – عَزَّ وَجَلَّ – لَهُ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الجَنَّةَ، فَيَأْتِيهَا، فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى، فَيَرْجِعُ، فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ! وَجَدتُّهَا مَلْأَى!، فَيَقُولُ اللهُ – عَزَّ وَجَلَّ – لَهُ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الجَنَّةَ؛ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا (أَوْ : إِنَّ لَكَ مِثْلَ عَشَرَةِ أَمْثَالِ الدُّنْيَا). فَيَقُولُ: أَتَسْخَرُ بِي (أَوْ : تَضْحَكُ بِي) وأَنْتَ المَلِكُ))؟. قَالَ: فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ، فَكَانَ يَقُولُ: :((ذَلِكَ أَدْنَى أَهْلِ الجَنَّةِ مَنْزِلَةً)).
“Dari Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهُ beliau berkata: Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda: Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui penghuni Neraka yang terakhir keluar dari Neraka, dan penduduk Surga yang paling terakhir masuk Surga: (yaitu) seorang yang keluar dari Neraka dalam keadaan merangkak, Allah pun berfirman (kepadanya): “pergilah masuklah ke dalam Surga”. Maka ia pun mendatanginya, maka dikhayalkan kepadanya bahwa Surga telah penuh, sehingga ia pun kembali (kepada Allah), ia pun berkata: “wahai Rabbku aku mendapati Surga telah penuh”, Allah pun berfirman: “pergilah masuklah ke Surga”, ia pun mendatanginya, dikhayalkanlah kepada dia bahwa Surga telah penuh, maka ia pun kembali, dan berkata: “wahai Rabbku, aku mendapati Surga telah penuh”, Allah pun berfirman: “pergilah masuklah ke Surga, karena sesungguhnya bagimu (balasan) seperti dunia (sepenuhnya) dan sepuluh kali yang semisalnya. Ia pun berkata “apakah Engkau (wahai Allah) menghinaku (atau di dalam riwayat lain, baca: menertawakanku?) padahal engkau adalah Maha Raja?.
(Ibnu Mas’ud) berkata: Sungguh aku melihat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tertawa sehingga gigi geraham beliau terlihat. Dan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda: Itulah penduduk Surga yang paling rendah manzilahnya”. (HR. Bukhari Muslim). 3 4
Uraian Hadis
Di dalam hadis yang mulia ini terdapat kabar akan balasan yang didapatkan oleh penduduk Surga yang paling rendah. Yaitu seseorang yang telah keluar dari Neraka yang disebabkan oleh tauhid yang ada di hatinya, Allah pun mengizinkannya untuk masuk ke Surga dan memberikannya balasan yang ia merasa bahwa ia tidak pantas untuk mendapatkan balasan yang sangat besar tersebut (yaitu dunia dan sepuluh kali lipatnya), hingga dia berkata: apakah Engkau menertawakanku wahai Allah padahal Engkau adalah Raja Diraja?.
Dalam riwayat lain Allah berfirman:
أَتَرْضَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مِثْلُ مُلْكِ مَلَكٍ مِنْ مُلُوكِ الدُّنْيَا؟، فَيَقُولُ: رَضِيْتُ رَبِّي، فَيَقُولُ: لَكَ ذَلِكَ، وَمِثْلُهُ، وَمِثْلُهُ، وَمِثْلُهُ، وَمِثْلُهُ. فَيَقُولُ فِي الخَامِسَةِ: رَضِيْتُ رَبِّي. فَيَقُولُ: هَذَا لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ، وَلَكَ مَا اشْتَهَتْ نَفْسُكَ، وَلَذَّتْ عَيْنُكَ. فَيَقُولُ: رَضِيْتُ رَبِّي.
“Apakah kau ridho apabila kau memiliki kerajaan seperti yang dimiliki oleh seorang raja dari para raja dunia?, dia berkata: “aku ridho wahai Rabb ku”, Allah berfirman: “bagimu hal tersebut, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya”, dia (si hamba tersebut) berkata saat yang kelima kalinya: “aku sudah ridho wahai Rabb ku”. Allah berfirman: “ini (semua) untukmu dan sepuluh kali lipatnya, dan bagimu semua yang jiwamu inginkan, dan (semua) yang nyaman dipandang matamu”, dia pun berkata: “aku sudah ridho wahai Allah”. 5
Demikianlah keadaan derajat terendah penduduk surga dan kenikmatan yang mereka dapatkan. Lantas bagaimanakah keadaan mereka-mereka yang ada di manzilah yang lebih tinggi, dan lebih tinggi lagi?, tentu akan lebih luar biasa. Maka hendaklah seorang muslim berlomba-lomba akan hal yang demikian, agar ia menjadi orang beruntung.
اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ جَنَّةَ الفِرْدَوسِ الأَعْلَى
“Ya Allah kami memohon kepada-Mu Surga Firdaus yang tertinggi”.
Faidah Hadis
- Surga merupakan tempat bagi mereka yang beriman kepada Allah dan beramal sholih.
- Allah Dzat yang maha kaya, kekuasaan dan kekayaan-Nya tidak terbatas.
- Allah memiliki rahmat yang luas bagi hamba-hamba-Nya yang bertauhid
- Faidah aqidah: hadis ini menetapkan adanya sifat tertawa bagi Allah, dan bahwasanya Allah tertawa sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tidak serupa dengan tertawa makhluk-makhluk-Nya.
Sebagaimana Dzat-Nya tidak serupa dengan makhluk, maka begitu juga Sifat-sifat-Nya tidak serupa dengan makhluk.
Madinah, 6 Ramadan 1446 H
Muhammad Syah Reza Vahlepi
(Tim Asatidz Al Firqotun Najiyah)
Daftar Pustaka
- Muslim bin Hajjaj, Shohih Muslim jilid 4, (Kairo: Mathba’ah Isa al-Babi al-Halabi, 1995 M) 2174 ↩︎
- Muhammad bin Nashiruddin al-Albani, Shohihul Jami’ jilid 2 (al-Maktab al-Islami) 963
↩︎ - Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shohihul Bukhari jilid 8, (Mesir: Thob’ah Sulthoniyah, 1422 H) 117 ↩︎
- Muslim bin Hajjaj, Shohih Muslim jilid 1, (Kairo: Mathba’ah Isa al-Babi al-Halabi, 1995 M) 173 ↩︎
- Muslim bin Hajjaj, Shohih Muslim jilid 1, (Kairo: Mathba’ah Isa al-Babi al-Halabi, 1995 M) 176 ↩︎





Barakallahu fiikum