Artikel

Para Sahabat Generasi Terbaik Manusia

Sesungguhnya pembicaraan mengenai para Sahabat Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ hendaknya selalu menjadi perhatian utama seorang muslim, dengan senantiasa memperlajari sirah mereka, dan tentunya mengambil ibrah dan faidah dari kehidupan mereka. Merekalah orang-orang yang menukil dan membawa ajaran Islam kepada generasi setelah mereka, dari merekalah Alquran dan Hadis-hadis Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sampai kepada kita, dari merekalah tafsir Alquran dan pemahaman yang benar menganai Sunnah Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kita dapatkan, melalui mereka Allah menegakkan Islam yang hanif ini, yang mengeluarkan dan menyelamatkan manusia dari penyembahan kepada sesama makhluk kepada penyembahan kepada Rabb para makhluk yaitu Allah Rabbul ‘alamin.  Allah menjadikan mereka penolong Nabi-Nya, berdakwah, dan berjihad bersama beliau صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, sehingga kalimat Allah menjadi satu-satunya kalimat yang tinggi di muka bumi. Alhamdulillah.

Dan apabila anda ingin melihat bagaimana cerminan Islam yang sebenarnya maka lihatlah dan cermatilah biografi kehidupan mereka. Merekalah kaum yang berhasil mengimplementasikan ajaran Islam secara kafah.

Mereka kaum terbaik yang Allah keluarkan untuk manusia, manusia yang paling baik dan bersih hatinya, orang-orang yang paling bertakwa, dan kaum yang paling ikhlas dalam beramal. Begitu banyak ayat Alquran dan Hadis Nabawi yang menjelaskan akan keutamaan dan keistimewaan mereka.

Oleh karena ini semua sepatutnya seorang muslim selalu memperhatikan pembahasan ini.

Di sisi lain, dikeranakan adanya sebagian kaum zindik yang menisbahkan diri mereka kepada Islam, namun mereka senantiasa menikam, menghujat, dan mencela para Sahabat رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ. Dan hal ini merupakaan sesuatu yang sangat berbahaya, karena hujatan kepada para Sahabat رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ merupakan hujatan terhadap Islam itu sendiri, menjatuhkan para Sahabat رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ sama dengan menjatuhkan Islam itu sendiri, sebab merekalah para perawi Islam yang meriwayatkan Islam kepada orang-orang setelah mereka sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Oleh karena itu para ulama mencantumkan pembahasan mengenai para Sahabat Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di dalam kitab-kitab akidah, untuk menjelaskan hak-hak mereka رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ, membela kehormatan mereka, dan untuk membantah penyimpangan sebagian orang yang memiliki kerancuan pemikiran terhadap mereka رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ.

Para Sahabat Sebaik-baik Manusia

Dari Abdullah bin Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian (generasi) yang setelah mereka, kemudian (generasi) yang setelah mereka”.

Derajat Hadis

Hadis shohih, diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori (3651) 1, dan Imam Muslim (6470)2, Imam Ahmad (4130)3.

Uraian Hadis

Sabda Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (sebaik-baik manusia adalah generasiku) hal ini menunjukkan bahwa generasi manusia terbaik yang pernah ada di muka bumi adalah generasi yang Rasulullah صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ hidup di dalamnya, yaitu para Sahabat beliau4.

Dan di dalam Islam, seseorang dikategorikan sebagai Sahabat Nabi ialah “seseorang yang bertemu dengan Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, beriman kepada beliau, dan dia wafat dalam keadaan Islam”5. Jadi terdapat tiga syarat:

  • (Bertemu dengan Nabi), walaupun pertemuan tersebut singkat, maka ia telah mendapatkan keutamaan shuhbah. Dengan syarat ini maka seseorang yang beriman kepada beliau, namun tidak pernah bertemu dengan beliau, maka ia tidak termasuk Sahabat, contohnya raja Najasyi rahimahullah, yang mana beliau sezaman dan beriman kepada Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, namun ia tidak pernah bertemu dengan Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
  • (Beriman kepada beliau صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), dengan syarat ini jadi siapa saja yang bertemu dengan beliau namun tidak beriman, maka ia tidak termasuk Sahabat, seperti orang-orang kafir dan munafik yang sezaman dengan beliau.
  • (Wafat dalam keadaan Islam), jadi siapa yang pernah bertemu dengan beliau, dan beriman, namun kemuadian ia murtad, dan mati dalam keadaan murtad (na’udzubillah), maka ia bukan termasuk Sahabat6 7.

Para Sahabat menjadi generasi terbaik dikarenakan keilmuan dan ma’rifah mereka tentang Allah dan risalah Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang mendalam, keimanan mereka yang jujur, amal sholeh mereka yang benar dan banyak, tersebarnya ilmu syar’i dan para ulama di zaman mereka, dan prioritas mereka yang besar akan negri akhirat. Sehingga dengan hal ini semua, tersebarlah kebaikan-kebaikan, dan keburukan pun sedikit, ditambah lagi dengan keberadaan mereka di bawah naungang nubuwah dan wahyu yang senantiasa menjadikan mereka terbimbing kepada jalan hidayah.

Sabda beliau صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ini (sebaik-baik manusia adalah generasiku) juga menunjukkan akan salah satu hak dari hak-hak para Sahabat yang wajib ditunaikan oleh kaum muslimin yaitu: wajibnya meyakini keutamaan-keutamaan mereka yang disebut di dalam Alquran dan Sunnah. Setidaknya ada sepuluh hak para Sahabat atas umat Islam, kami sajikan secara singkat8:

  1. Wajib mencintai mereka.
  2. Meyakini keutamaan mereka dan ‘adalah (keistiqomahan agama) mereka.

Allah berfirman:

{وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}

“Orang-orang terdahulu lagi yang awal-awal (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshor, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah, dan Allah menyiapkan bagi mereka Surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar”. (QS. at-Taubah: 100).

  1. Meyakini tingkatan keutamaan mereka berdasarkan nushus syar’iyah. 

Karena para Sahabat memiliki derajat yang berbeda-beda. Sahabat yang paling utama ialah: Abu bakr as-Shiddiq, kemudian Umar bin Khattab, kemudian ‘Utsman bin ‘Affan, kemudian Ali bin Abi Thalib, kemudian sepuluh Sahabat yang dijamin masuk surga, kemudian para Sahabat yang ikut perang Badar, kemudian perang Uhud, kemudian baiat Ridwan, dan seterusnya.

  1. Senantiasa menyebut mereka dengan kebaikan.
  2. Mempersaksikan bahwa mereka penduduk Surga, secara umum, dan secara personal sesuai yang disebutkan di dalam Hadis Nabawi.
  3. Mendoakan, memohonkan ampunan, dan keridhoan bagi mereka

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

 “Dan orang-orang yang datang setelah mereka (para sahabat) berkata: wahai Rabb kami ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dengan keimanan dan jangan engkau jadikan di dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang beriman, wahai Rabb kami sesungguhnya engkau maha pemaaf dan penyayang”. (QS. Al-Hasyr: 10)

  1. Diam akan kesalahan yang terjadi pada mereka.
  2. Diam dan tidak ikut campur akan perselisihan yang terjadi diantara mereka.
  3. Membenci siapa saja yang membenci mereka رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ, serta membantah orang tersebut.
  4. Mengikuti jejak mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Siapa saja yang mencermati sirah mereka dengan ilmu dan bashiroh, dan memperhatikan akan apa saja yang Allah karuniakan bagi mereka berupa keutamaan yang banyak, maka ia akan yakin bahwasanya merekalah (para Sahabat) sebaik-baik manusia setelah para Nabi, tidak pernah ada dan tidak akan ada kaum seperti mereka, dan merekalah umat terpilih diantara generasi umat Islam sebagai sebaik-baik umat dan yang paling mulia di sisi Allah”9.

Sabda Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka) yaitu generasi Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in 10. Ini menunjukkan keutamaan dua generasi ini setelah para Sahabat رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ, karena pada dua generasi ini keistiqomahan di atas Islam masih sangat kuat, walaupun tidak seperti zaman Sahabat, namun kebaikan-kabaikan masih sangat banyak dan tersebar luas.

Dan makna Tabi’in adalah orang yang bertemu dengan Sahabat Nabi صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, beriman kepada Nabi, dan wafat di atas Islam. 

Tabi’ut Tabi’in ialah orang yang bertemu dengan tabi’in, dan dia seorang yang beriman, serta wafat di atas Islam11.

Inilah tiga generasi terbaik yang pernah ada. Sebagian ulama menjelaskan bahwa tiga generasi ini berakhir pada tahun 150 H, atau pada tahun wafatnya Imam Malik bin Anas rahimahullah yaitu tahun 174 H, wallahu a’lam.

Untuk mengetahui biografi dan perjalanan hidup mereka maka kita bisa merujuk ke kitab-kitab tarajum dan thobaqot, seperti kitab: al-Isti’ab fi Ma’rifatil Ashhab oleh Ibnu Abdil Barr, al-Ishobah fi Tamyiz as-Shohabah oleh Ibnu Hajr al-’Asqolani, Siyarul A’lam an-Nubala oleh adz-Dzahabi, Asadul Ghobah oleh Ibnul Atsir, dan kitab-kitab lainnya.

Faidah Hadis

  1. Sebaik-baik generasi adalah para Sahabat, kemudian Tabi’in, kemudian Tabi’ut Tabi’in.
  2. Wajib bagi umat Islam untuk memenuhi hak para Sahabat.
  3. Semakin dekat suatu zaman dengan zaman Nubuwah maka semakin baik, sebaliknya semakin jauh suatu zaman dengan zaman Nubuwah maka akan semakin buruk.
  4. Jalan keselamatan dengan menempuh jalan orang-orang yang telah selamat, yaitu para Sahabat.
  5. Hadis ini sebagai sangahan kepada sebagian kaum zanadiqoh (munafik) yang mana mereka selalu mencela sebaik-baik manusia.

Penulis

Ustadz Muhammad Syah Reza Vahlepi, S.Pd (Tim Asatidzah Al Firqotun Najiyah)

Madinah, 4 Rabiul Akhir 1446 H

Referensi

  1. Muhammad bin Ismail al-Bukhori, al-Jami’ al-Musnad al-Mukhtashor Min Umuri Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamih (Damaskus: Muassasah ar-Risalah, 1444 H), 932. ↩︎
  2. Muslim bin Hajjaj, Shohih Muslim (Damaskus: Mu’assasah ar -Risalah 1444H). ↩︎
  3. Ahmad bin Hambal, Musnad al-Imam Ahmad jilid 7 (Damaskus: Mu’assasah ar-Risalah, 1438 H), 199.
    ↩︎
  4. Ibnu Hajar al-’Asqolani, Fathul Bari jilid 7 (Mesir: Thob’ah Salafiyah, 1380 H), 5-6.      fathul bari jilid 7, hal 5-6 ↩︎
  5. ‘Awad ar-Ruwaitsi, al-Mukhtshor min Ruwatil Hadits (Madinah: Suthurl Bahtsil ‘Ilmi, 1445 H), 55. ↩︎
  6. ‘Awad ar-Ruwaitsi, al-Mukhtshor min Ruwatil Hadits (Madinah: Suthurl Bahtsil ‘Ilmi, 1445 H), 55- 57 ↩︎
  7. Jalaluddin as-Suyuthi, Tadribur Rawi jilid 2 (Dammam: Dar Ibnul Jauzi, 1444 H) 795-798 ↩︎
  8. Sholih Sindi, Huquq as-shohabah ‘alal Ummah (Riyadh: Fihris Maktabah al-Malik Fahd al-Wathoniyah, 1435 H) ↩︎
  9. Ahmad bin Abdil Halim bin Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa jilid 3 (Madinah: Majma’ Malik Fahd, 1420 H), 156 ↩︎
  10. Abu Zakariya Muhyiddin an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shohih Muslim jilid 16 (Bairut: Dar Ihya at-Turats al-’Arabi, 1392 H) 85 ↩︎
  11.  ‘Awad ar-Ruwaitsi, al-Mukhtshor min Ruwatil Hadits (Madinah: Suthurl Bahtsil ‘Ilmi, 1445 H) ↩︎

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button