Artikel
Trending

Semangat untuk Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam sebuah hadits bahwa manusia terbagi menjadi 2 golongan, yaitu: pertama, golongan manusia yang menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan; kedua, golongan manusia yang menjadi pembuka pintu-pintu keburukan dan penutup pintu-pintu kebaikan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 

 إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيْحَ لِلْخَيْرِ ، مَغَالِيْقَ لِلشَّرِّ ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيْحَ لِلشَّرِّ ، مَغَالِيْقَ لِلْخَيْرِ  فَطُوْبَى لِمَنْ جَعَلَ اللهُ مَفَاتِيْحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللهُ مَفَاتِيْحَ الشَرِّ عَلَى يَدَيْهِ

“Sesungguhnya di antara manusia ada golongan yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan, dan sesungguhnya di antara manusia ada golongan yang menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan, maka thuba untuk orang yang Allah jadikan di tangannya kunci-kunci pembuka pintu kebaikan, dan wailun untuk mereka yang Allah jadikan ditangannya kunci-kunci pembuka pintu keburukan” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Abi ‘Ashim, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 1332) [1]

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa thuba bagi orang-orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan, makna thuba adalah kehidupan yang baik dan tempat kembali yang baik karena mendapat ridho Allah, thuba juga bermakna pohon di surga [2]. Sedangkan untuk orang-orang yang menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan adalah wailun, dan wail memiliki makna azab yang pedih [3].

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin mengatakan: “Ketika mendengar hadits di atas (hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik), maka setiap muslim yang ingin selamat serta bahagia dalam kehidupan dunia dan akhiratnya, pasti hatinya akan bergetar dan jiwanya akan tergerak dengan semangat untuk menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan” [4].  Maka seorang muslim harus bersemangat untuk bisa menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan, agar menjadi di antara penghuni surga dan bukan orang-orang yang mendapat azab Allah subhanahu wa ta’ala.

Seorang muslim yang berusaha untuk membuka pintu kebaikan dan menutup pintu keburukan berarti ia tengah mengambil peran di dalam berdakwah di jalan Allah, dan dakwah merupakan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikuti beliau. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala firmankan:

 قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ وَسُبۡحَـٰنَ ٱللهِ وَمَاۤ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata (ilmu), Maha Suci Allah, dan aku tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108)

Allah subhanahu wa ta’ala juga menegaskan bahwa perkataan orang yang mengajak kepada kebaikan adalah perkataan yang paling baik, sebagaimana terdapat firman-Nya:

 وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلࣰا مِّمَّن دَعَاۤ إِلَى ٱللهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحࣰا وَقَالَ إِنَّنِی مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِینَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (berdakwah) kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” ?”. (QS. Fushilat: 33)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan keutamaan orang-orang yang berdakwah sangat besar, bahkan lebih besar dan berharga dari harta benda dunia, hal tersebut seharusnya menjadi penyemangat untuk setiap muslim agar menjadikan dirinya sebagai kunci pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu:

لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا، خَيْرٌ لكَ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

“Sungguh Allah memberikan hidayah kepada seseorang melalui perantara dirimu, hal itu lebih baik daripada engkau mendapatkan unta merah” (HR. Bukhari, No. 4210) [5]

Di dalam hadits yang lain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa seorang yang membuka pintu kebaikan untuk orang lain maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakan kebaikan tersebut, dan sebaliknya orang yang membuka pintu keburukan untuk orang lain maka ia mendapatkan dosa seperti orang yang melakukan keburukan tersebut. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang mengajak kepada hidayah (kebaikan) maka baginya pahala seperti orang-orang yang mengerjakannya dan tidak mengurangi pahala mereka (orang-orang yang mengikuti kebaikan) sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia akan mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi dosa mereka (orang-orang yang mengikuti kesesatan) sedikitpun”. (HR. Muslim, No. 2674) [6]

Maka seorang muslim yang bersemangat mengumpulkan pundi-pundi pahala sebagai bekal untuk menghadap Allah subhanahu wata’ala dan ingin mendapatkan kesuksesan yang hakiki berupa dimasukan kedalam surga serta dijauhkan dari siksa api neraka, sudah seharusnya mereka bersemangat untuk menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan. 

Referensi:

[1] Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah wa Syaiun min Fiqhiha wa Fawaidiha, jilid 3. (Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif, 1995), 320.

[2] Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan. (Bairut: Dar Ibnu Hazm, 2004), 393.

[3] Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan. (Bairut: Dar Ibnu Hazm, 2004), 42.

[4] Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr, Kaifa Takunu Miftahan li al-Khoir. (Madinah: Maktabah Malik Fahd, 1431 H), 7.

[5] Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari. (Damaskus: Dar Al-Faiha’, 2017), 715.[6] Abu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj AN-Naisaburi, Shahih Muslim. (Damaskus: Dar Al-Faiha’, 2020), 1165.

Penulis :

Angger Bimantara (Tim Asatidzah Al Firqotun Najiyah)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button