
Dalam Islam, sebuah niat atau tekad bisa menjadi amalan yang sangat mulia atau sebaliknya, menjadi amalan buruk. Niat dapat memperberat kualitas kebaikan suatu amalan atau sebaliknya, meringankan dan bahkan menghilangkan kualitas suatu amalan. Sebagian salaf berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil karena niat”1. Banyak nukilan dari Al-Qur’an maupun Sunnah, atau dari para salafush shalih yang berkaitan dengan perhatian terhadap niat, anjuran untuk selalu memperbaiki niat, serta peringatan agar seseorang tidak menghadirkan niat yang salah dalam beramal.
Niat dan Balasannya
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ قَالَ: قَالَ: «إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً.
“Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari apa yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya, beliau bersabda: Allah berfirman: Sesungguhnya Allah telah menuliskan kebaikan dan keburukan, kemudian Dia menjelaskannya, yaitu barangsiapa yang bertekad melakukan suatu kebaikan dan dia belum mengamalkannya, maka Allah menuliskannya sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Dan apabila ia bertekad melakukan kebaikan tersebut, kemudian mengamalkannya, maka Allah menuliskannya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan, hingga tujuh ratus kali lipat, atau hingga kelipatan yang lebih banyak. Dan barangsiapa yang bertekad melakukan keburukan dan dia belum melakukannya, maka Allah menuliskan baginya satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa yang bertekad melakukan keburukan tersebut, kemudian melakukannya, maka Allah menuliskan baginya satu keburukan.” (HR. Bukhari, no. 6491)2.
Uraian Singkat Hadis
Sesungguhnya Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan amalan-amalan dan balasan atas setiap amalan yang dilakukan hamba-Nya, serta dengan keadilan-Nya yang Maha Agung, Dia menjadikan sebagian malaikat bertugas sebagai pencatat amalan hamba-hamba-Nya, baik itu amalan kebaikan maupun keburukan3. Kemudian Allah merinci hal tersebut:
- Siapa yang berazam untuk melakukan kebaikan namun ia belum melakukannya karena suatu hal, maka Allah menuliskan baginya satu kebaikan yang sempurna karena azam dan niatnya yang jujur.
- Siapa yang berazam melakukan kebaikan lalu dia melaksanakan kebaikan tersebut, maka Allah akan menuliskan baginya sepuluh kali lipat kebaikan, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat, atau bahkan sampai kelipatan yang lebih banyak yang Allah kehendaki4. Hal ini menunjukkan bahwa pelipatgandaan pahala hingga sepuluh kali lipat merupakan suatu kepastian, sedangkan pelipatgandaan pahala lebih dari sepuluh kali lipat tergantung kehendak Allah. Pelipatgandaan ini juga tergantung pada keikhlasan, kejujuran tekad, kehadiran hati ketika melakukan amalan, atau manfaat dari amalan tersebut yang sampai kepada orang lain, seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, memberi contoh yang baik kepada orang lain, kemuliaan amalan yang dikerjakan, dan semisalnya.
- Siapa yang berazam untuk melakukan keburukan namun dia tidak melakukannya dan meninggalkannya karena Allah, maka Allah akan menuliskan baginya satu kebaikan yang sempurna. Sempurna dalam artian kadarnya dan kualitasnya yang besar, dan bukan dalam bentuk pelipatgandaan5.
- Siapa yang berazam melakukan keburukan, dan dia melakukannya, maka Allah akan menulis baginya satu keburukan.
Hadis yang agung ini benar-benar menunjukkan rahmat Allah yang Maha Luas, dan bahwa rahmat-Nya mendahului murka-Nya6. Perhatikanlah bagaimana Allah memberi satu pahala bagi orang yang bertekad melakukan kebaikan, dan melipatgandakan pahala bagi mereka yang melaksanakan kebaikan tersebut. Sebaliknya, orang yang bertekad melakukan keburukan namun ia tinggalkan karena Allah, Allah mencatat baginya satu pahala. Dan apabila ia mengerjakan keburukan tersebut, maka baginya hanya satu keburukan, dan keburukannya tidak dilipatgandakan.
Imam an-Nawawi berkata setelah membawakan hadis ini: “Perhatikanlah, wahai saudaraku, betapa agungnya kebaikan Allah, dan perhatikanlah lafaz-lafaz ini: Di sisi-Nya: Sebagai isyarat perhatian terhadap kebaikan. Sempurna: Sebagai penekanan, dan perhatian yang sangat terhadap kebaikan. Dan Allah berfirman tentang keburukan yang ditinggalkan karena-Nya: ‘Allah menulis baginya satu pahala yang sempurna,’ ditekankan dengan penyebutan ‘sempurna.’ Dan apabila keburukan dikerjakan, maka ditulis baginya satu keburukan, disertai dengan penekanan kata ‘satu’ untuk mengecilkannya, dan tidak menggunakan kata ‘sempurna.’ Maka segala puji bagi Allah, Maha Suci Dia. Kita tidak bisa menghitung pujian atas-Nya, dan taufik hanya milik Allah”7.
Faedah Hadis
- Luasnya rahmat Allah.
- Penetapan penulisan (takdir) kebaikan dan keburukan.
- Anjuran bagi seseorang untuk selalu memperbaiki niat.
- Hendaknya seseorang selalu berazam untuk melakukan kebaikan.
- Menjauhi niat dan tekad yang buruk.
- Anjuran untuk memperbanyak amal shalih.
- Peringatan agar menjauhi maksiat.
- Kebaikan akan dilipatgandakan minimal sepuluh kali lipat, dan ini merupakan keutamaan dan kemurahan Allah.
- Di antara bentuk keadilan Allah, Dia tidak melipatgandakan keburukan.
Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu diberi taufik untuk mempelajari ilmu syar’i dan mengamalkannya.
Madinah, 29 Safar 1446 H
Muhammad Syah Reza Vahlepi
- Syamsuddin bin Muhammad azd-Dzahabi, Siyarul A’lamin Nubala’ Jilid 8. Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1985, hlm. 400.
↩︎ - Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Al-Jami’ Al-Musnad Al-Shahih Al-Mukhtashar Min Umuri Rasulullah wa Sunanihi wa Ayyamihi Jilid 8. Mesir: Thob’ah as-Sulthoniyah, 1422 H, hlm. 103. ↩︎
- Abdul Muhsin al-Abbad, Fathul Qawi al-Matin fii Syarhil Arba’in wa Tatimmatil Khamsin, Kairo: Darul Furqon, 2010, hlm. 125-126. ↩︎
- Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Syarhul Arba’in an-Nawawiyah, Riyadh: Daruts Tsurayya, 2004, hlm. 400. ↩︎
- Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Jilid 11. Mesir: Thob’ah as-Salafiyah, 1390 H, hlm. 326. ↩︎
- Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Al-Jami’ Al-Musnad Al-Shahih Al-Mukhtashar Min Umuri Rasulullah wa Sunanihi wa Ayyamihi Jilid 9. Mesir: Thob’ah as-Sulthoniyah, 1422 H, hlm. 135. ↩︎
- Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Syarhul Arba’in an-Nawawiyah, Riyadh: Daruts Tsurayya, 2004, hlm. 402. ↩︎



