
Islam sebagai agama yang mudah dan penuh dengan rahmat telah menjelaskan semua jalan kebaikan untuk ditempuh, dan menerangkan semua jalan keburukan untuk dihindari. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda
مَا بَعَثَ الله ُمِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ كاَنَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرٍ يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيَنْهَاهُمْ عَنْ شَرٍّ يَعْلَمُهُ لَهُمْ.
“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali harus baginya untuk membimbing umatnya kepada kebaikan yang ia ketahui untuk mereka, dan melarang mereka akan keburukan yang ia ketahui untuk mereka”. (HR. Muslim, no. 1844) [1]
Di antara kemudahan-kemudahan ini ialah mudahnya seseorang untuk masuk surga selama ia menginginkannya. Cukup dengan istiqomah di atas Sunnah Nabi, menaati semua perintah beliau, dan tidak membangkang akan perintah beliau, maka dengan hal itu sesorang akan meraih rahmat Allah yang dengannya ia akan masuk surga.
Jaminan surga bagi mereka yang ittiba’ kepada Nabi
Dasar dari pembahasan ini ialah sabda nabi shallallahu alaihi wa sallam:
كُلُّ أُمَّتِي يُدْخُلُ الجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي دَخَلَ النَّارَ.
“Setiap umatku pasti masuk surga kecuali mereka yang enggan, para sahabat berkata: siapa yang enggan (masuk surga) wahai Rasulullah?, beliau bersabda: siapa saja yang menaatiku dia akan masuk surga, dan siapa saja yang menentangku ia akan masuk neraka” (HR. Bukhori, no. 7280). [2]
Uraian hadis
Dalam hadis di atas Nabi mengabari dan memberi kabar gembira kepada umat Islam, yaitu mereka yang telah menerima dakwah beliau shallallahu alaihi wa sallam bahwa siapa saja yang menaati beliau maka ia terjamin untuk masuk surga. Karena pada hakikatnya taat kepada beliau sama dengan menaati Allah, Allah berfirman:
((مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ))
“siapa yang menaati Rasul maka ia telah menaati Allah”. (QS. An Nisa: 80)
Dan karena seorang yang menaati Nabi ia telah merealisasikan pada dirinya makna dari penggalan kedua dari syahadatain yang merupakan rukun Islam yang pertama yaitu:
((وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ)) “aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah”.
Karena sebab inilah maka ia pantas dimasukkan ke surga dengan rahmat Allah
Dalam sebuah hadis yang semakna dengan hadis di atas Nabi bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ الله
“siapa yang menaatiku maka ia telah menaati Allah”. (HR. Bukhori, no. 7137). [3]
Karena pada hakikatnya Nabi tidaklah memerintah sesuatu kecuali apa yang Allah perintahkan, maka siapa saja yang memenuhi apa yang beliau perintahkan maka ia telah menaati Allah sebagai Dzat yang telah mengutus Nabi. Dan juga bisa bermakna: karena Allah memerintahkan untuk taat kepada Nabi, maka siapa yang taat kepada Nabi maka ia telah menaati perintah Allah untuk menaatiku (yaitu Nabi shallallahu alaihi wa sallam).
Ketaatan di sini bermakna melaksanakan apa saja yang diperintah, dan meninggalkan apa saja yang dilarang. [4]
Kemudian dalam hadis di atas Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengabari bahwa ada orang-orang yang enggan masuk surga. Maka para sahabat pun – sebagai orang-orang paling semangat untuk mengetahui kebaikan dan menjahui keburukan – bertanya kepada nabi siapakah orang-orang yang enggan masuk surga tersebut? Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam – sebagai seorang yang paling sempurna pengetahuannya tentang Allah, yang paling ikhlas dalam menasihati umat, dan yang paling mahir dalam menjelaskan syariat – [5] menjelaskan sifat mereka, bahwa siapa saja yang membangkang kepada Rasulullah, orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, serta mengingkari kebenaran yang datang dari Rasul, dan melenceng dari jalan yang lurus, maka mereka itulah orang-orang yang enggan masuk surga. [6]
Faidah hadis
- Wajibnya berpegang teguh dengan Sunnah Nabi shallahu alaihi wa sallam.
- Berpegang teguh dengan Sunnah jalan menuju surga.
- Di antara kandungan syahadat Muhammadurrasulullah ialah menaati segala perintah beliau, dan menjauhi segala larangan beliau shallahu alaihi wa sallam.
- Jalan surga hanya satu, yaitu dengan mengikuti syariat Nabi terakhir, Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam.
- Hadis ini sebagai sanggahan bagi keyakinan sebagian orang bahwa seseorang tidak akan masuk surga kecuali harus mengikuti individu tertentu, atau kelompok tertentu, atau ajaran tertentu, yang mana mereka pada hakikatnya sangat jauh dari hidayah dan petunjuk Rasulullah shallahu alaihi wa sallam.
Referensi:
[1] Muslim bin Hajjaj, al-Musnad as-Shohih al-Mukhtashor Minassunani Binaqlil Adli Anil Adli Ila Rasulillah, jilid 3. (Kairo: Mathba’ah Isa al-Babi al-Halabi, 1955), 1472.
[2] Muhammad bin Ismail Al-Bukhori, al-Jami al-Musnad al-Shohih al-Mukhtashor min Umuri Rasulullah wa Sunanhi wa Ayyamihi, jilid 9. (Mesir: Thob’ah as-Sulthoniyah, 1422 H), 92.
[3] Muhammad bin Ismail Al-Bukhori, al-Jami al-Musnad al-Shohih al-Mukhtashor min Umuri Rasulullah wa Sunanhi wa Ayyamihi, jilid 9. (Mesir: Thob’ah as-Sulthoniyah, 1422 H), 61
[4] Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqolani, Fathul Bari, jilid 13. (Mesir: Thob’ah as-Asalafiyah), 112.
[5] Ahmad bin Taimiyah, al-Fatwa al-Hamawiyah al-kubro. (Riyad: Maktabah Darul Minhaj), 264-265
[6] Ahmad bin Muhammad al-Qastholani, Irsyadus Sari li Syarhil Bukhori, jilid 10. (Mesir: Mathba’ah al-Amiriyah 1323 H), 302-303.
Penulis:
Muhammad Syah Reza Vahlepi
Tim Asatidzah Al Firqotun Najiyah



