Uncategorized

Muhammad bin Abdillah Rasul dan Nabi Terakhir

Bentuk rahmat Allah bagi umat manusia bahwasanya Dia mengutus para Nabi dan Rasul yang akan membimbing mereka kepada jalan yang Ia ridhai, dan agar mereka merealisasikan ibadah dengan benar.

Dan Allah telah memilih Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai Nabi dan Rasul terakhir, yang dengan beliau Allah menyempurnakan syariat Islam yang Ia ridhai ini.

Namun, meskipun hal ini sangat gamblang bagi umat manusia, masih kita dapati di luar sana sebagian manusia yang mereka memilih kebinasaan bagi diri mereka sendiri dengan cara membuat pengakuan bahwa mereka adalah seorang nabi yang diutus setelah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Dan hal yang lebih mengherankan lagi sebagian manusia membenarkan dakwaan tersebut, dengan mengikuti serta setia dan taat dengan nabi-nabi palsu tersebut.

Padahal membedakan antara seorang nabi yang asli atau palsu merupakan hal yang sangat mudah dilakukan. Karena pengakuan sebagai seorang nabi tidak akan dilakukan kecuali oleh dua jenis manusia; yaitu seorang yang paling jujur di muka bumi ini, dan seorang yang paling pendusta. Apakah anda sulit membedakan mana orang yang paling jujur dengan seorang yang paling pendusta?, kami yakin hal tersebut tidaklah sulit dilakukan.

Ditambah lagi nushush yang ada di dalam Alquran dan Hadits-hadist Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang menekankan bahwa beliau adalah seorang Nabi terakhir begitu banyak dan jelas.

Maka setelah kita mengetahui semua ini, jelas bagi kita bahwa dakwaan atau pengakuan kenabian atau kerasulan setelah beliau merupakan dakwah yang dusta, dan wajib untuk diingkari dan didustakan.

Nabi Muhammad Adalah Nabi Terakhir, Tidak Ada Lagi Nabi Setelah Beliau

Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ، إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ، وَيَعْجَبُونَ لَهُ، وَيَقُولُونَ: هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ؟، قَالَ: فَأَنَا اللَّبِنَةُ، وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ.

“Perumpamaanku dengan para Nabi sebelumku seperti seorang yang membangun sebuah rumah, diapun memperindahnya dan menyempurnakanya, namun hanya tersisa satu bagian batu bata (yang belum terisi) di salah satu bagian sudutnya, maka orang-orangpun mengelilingi (melihat-lihat) bangunan tersebut dan mereka takjub dengannya, dan berkata: mengapa batu bata ini tidak diletakkan?, (Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata: maka akulah batu bata itu, dan akulah penutup para Nabi”.

Derajat Hadis

Hadis shohih,

diriwayatkan oleh Imam bukhori dalam kitab shohih bukhori, kitab manaqib, bab khotimin nabiyyin, nomor (3535).

Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam kitab shohih beliau, kitab fadho’il, bab dzikru kaunihi khatamin nabiyyin, nomor (2286).

Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnad beliau, musnad Abi Hurairah, nomor (8116).

Uraian Hadits

Pada hadis di atas Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjelaskan sebuah perumpamaan yang menggambarkan bagaimana nubuat beliau sebagai penyempurna dan penutup kenabian. Yaitu seperti sebuah rumah yang indah dan sempurna yang apabila dilihat oleh manusia akan membuat mereka takjub serta memuji-muji bangunan tersebut. Namun mereka menemukan suatu cela yang belum diletakkan padanya batu bata yang akan menutup lubang bangunan tersebut yang akan membuatnya benar-benar sempurna. Lalu beliau menjelaskan bahwa bangunan tersebut itulah nubuwah, dan batu bata yang dengannya bangunan tadi disempurnakan adalah beliau sendiri, maka dengan itu sempurnalah perkara kenabian, dan tidak akan ada nabi lagi setelah beliau sampai hari kiamat. 

Dalil-dalil lain akan persoalan ini

  • Firman Allah عَزَّ وَجَلَّ:

{مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ}.

“Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari kalian, namun dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi”. (QS. Al-Ahzab: 40).

Imam Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ berkata dalam tafsir beliau ketika menafsirkan ayat di atas :

“Maka ayat ini merupakan nas yang menjelaskan bahwa tidak ada seorang nabi lagi setelah beliau, dan apabila tidak ada lagi nabi setelah beliau maka seorang rasul pun lebih tidak akan ada lagi, karena kedudukan kerasulan lebih khusus dari kedudukan nubuwwah, karena setiap rasul pasti seorang nabi, dan tidak sebaliknya, dan hal ini telah datang hadis-hadis yang mutawatir dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melalui jalur dari sekelompok para Sahabat رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ”.

  • Dalam hadits Jubair bin Muth’im ketika Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyebut nama-nama beliau diantaranya:

(… وَأَنَا العَاقِبُ، وَالعَاقِبُ الَّذِيْ لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ).

“ … dan aku adalah Al-’Aqib, dan Al-’Aqib adalah seorang yang tidak ada nabi setelahnya”. (HR. Bukhari 3532, Muslim, 2354).

  • Dalam hadits Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ketika Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyebutkan 6 kekhususan beliau dari para Nabi terdahulu, di akhir hadis beliau menyampaikan:

(… وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ).

“… dan ditutup denganku kenabian”. (HR. Muslim, 523).

  • Hadis Tsauban رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Nabi bersabda: 

(وَإِنَّهُ سَيَكُونُ مِنْ أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلاَثُونَ، كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ، وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ، لاَ نَبِيَّ بَعْدِي).

“Dan akan ada dari umatku ini tiga puluh pendusta, semua mengaku-ngaku Nabi. Padahal akulah penutup para Nabi, tidak ada lagi nabi setelahku”. (HR. Abu Dawud, 4252).

Dan di sana masih ada dalil-dalil lain yang menunjukkan akan hal ini. Maka setelah jelas bagi kita perkara ini, wajib bagi kita untuk mengimaninya, dan mentaati Nabi terakhir tersebut صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, mengamalkan perintah-perintah beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, dan membenarkan semua kabar-kabar yang datang dari beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Faidah Hadis

  1. Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir.
  2. Pengakuan kenabian setelah beliau merupakan pengakuan yang dusta.
  3. Nabi memiliki metode yang bagus dalam menjelaskan suatu perkara kepada umat agar mereka mudah memahami apa yang beliau jelaskan, diantaranya menggunakan perumpamaan (dhorbul matsal).
  4. Keutamaan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bahwasanya Allah memilih beliau sebagai penyempurna dan penutup para Nabi dan Rasul.

___________

Madinah, 18 Dzulhijjah 1446 H
Muhammad Syah Reza Vahlepi
(Tim Asatidz Al Firqotun Najiyah)

Daftar Pustaka

[1] Alquranul Karim.
[2] Al-Bukhari, Muhammad bin Isma’il. Shohihul Bukhori, Mesir: Sulthoniyah, 1311 H.
[3] Muslim bin Hajjaj. Shohih Muslim, Damaskus: Mu’assasah ar-Risalah, 1438 H.
[4] Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy’ast. Sunan Abi dawud, Bairut: al-Maktabah al-’Ashriyah.
[5] Ahmad bin Hambal. Musnadul Imam Ahmad, Damaskus: Mu’assasah ar-Risalah, 2001 M.
[6] Ibnu Katsir. Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, Bairut: Darul Kutub al-’Ilmiyah, 1998 M.
[7] Al-’Asqolani, Ibnu Hajar. Fathul Bari, Mesir: Thob’ah Salafiyah, 1380 H.
[8] Al-Hanafi, Ibnu Abil ‘Izz. Syarhul ‘Aqidah ath-Thohawiyah, Damaskus: Mu’assasah ar-Risalah, 2018 M.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button